Pertemuan Kembali

Monday, 23 Jun 2014

Selesai sudah rasa penasaran saya selama ini. Dari dulu harusnya sudah saya lakukan hal ini. Rasa penyesalan sekarang harus saya terima. Ya, perjalanan percintaan saya memang tak semulus wajah artis k-pop. Penuh dengan luka-lika, halangan, rintangan, godaan, dan semacamnya harus saya hadapi diperjalanan. Sampai pada akhirnya saya sadar, waktu dan kesempatan jangan sampai disia-siakan. Harus bergerak cepat, jika tidak rasa penyesalan akan datang suatu hari nanti. Ketika rasa penyesalan itu datang kamu sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Kamu pengen kembali ke masa lalu lewat mesin waktu doraemon adalah hal mustahil. Kamu harus menerima kenyataan pahit yang terjadi sekarang sebagai akibat dari keputusan yang kamu ambil dimasa lalu. Kamu juga harus siap dengan kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Ya, kamu harus tegar dan sabar.

Kegalauan yang dulu menerpa dalam menentukan pilihan bisa menjadi alasan mengapa saya bisa seperti ini. Rasa egois yang dulu terlalu besar, lebih mementingkan diri sendiri. Sudah jelas-jelas di depan ada seseorang yang lebih dekat namun saya masih saja bersikap dingin. Padahal dalam hati, senang bisa terus dekat dengannya. Memang saya munafik dan gak mau mengaku kalo saya nyaman dengannya. Sejak masuk kuliah, frekuensi bertemu dengannya semakin jarang karena memang berbeda jurusan. Sulit buat ngemodus biar bisa bertemu. Dapat kabar dia aja udah seneng, apalagi bisa bertemu dan saling mengobrol. Dulu saya memang cowok pengecut yang gak bisa menyatakan perasaan saya yang sebenarnya dan terus menunda-nunda.

Sampai pada akhirnya saya mengira dia sudah tidak memiliki perasaan yang sama seperti sebelumnya karena sudah terlalu lama tidak bertemu. Saya hanya bisa melihatnya di media sosial. Lihat-lihat timeline miliknya. Sampai suatu saat saya tahu dia sudah menjalin hubungan dengan orang lain. Nyeseknya luar biasa bercampur dengan rasa penyesalan. Hanya bisa berpura-pura bahagia dan seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Padahal dalam hati mah, jleub banget 🙁

Semenjak itu, dia masih menghubungi saya. Ya, walaupun dengan cara ngemodus juga. Saya gak berani buat nanya tentang relationship-nya. Saya pura-pura tidak tahu saja. Dia juga tidak membahasnya sama sekali. Harapan sedikit demi sedikit mulai pupus. Walaupun belum ada janur kuning melengkung, sepertinya harapan itu tersisa tinggal sedikit. Dari dulu sejak masih di sekolah menengah saya tahu dia orangnya baik dan bersemangat. Kenangan juga banyak terjadi saat SMA, teman-teman bahkan guru-guru juga banyak yang menyangka saya dan dia sudah pacaran, padahal saat itu statusnya masih berteman. Orang-orang banyak yang mendukung, dia udah ngasih kode yang udah gak kehitung, namun saya masih saja egois dan bersikap dingin padanya. Maaf 🙁

Kemarin saya punya kesempatan buat menyatakan semua perasaan saya yang terpendam, ciee… Bisa dibilang bukan kesempatan juga sih, tiba-tiba aja kata-kata “keramat” itu keluar dengan sendirinya. Saya seperti terhipnotis dan tidak bisa menahan perasaan saya lagi. Saya sudah tahu reaksi dia bakal kayak gimana. Menganggap gak percaya, bohong, pura-pura dan aneh. Wajarlah ya, dulu saya dingin sama dia dan sekarang situasinya sudah berbeda. Saya tahu, saya hanya akan membuat dia semakin bingung saja. Maaf. Ditambah lagi waktunya memang tidak tepat bahkan sudah sangat terlambat.

Saya merasa lebih dekat dengannya setelah bertemu. Hati ini meledak kuat seperti bom atom hidrogen. Kenapa gak dari dulu aja ya? Walaupun hanya sebentar saja dengannya, saya sudah merasa senang dan bahagia. Walaupun pengennya terus bersama dia, tapi kenyataannya sekarang tidak mungkin. Apakah saya harus menunggu seperti yang dulu dia lakukan?

Aneh rasanya bisa terjadi seperti ini. Seperti cerita drama. Apakah ini yang disebut dengan proses pendewasaan?

Kategori : Relationship

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *